Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Mei 2017

Membunuh mandor.

Bagaimana membunuh tanpa membuatnya mati?

Mati gak papa... Yang penting aku jangan sampai masuk bui.

Santet?

Jangan. kalau santet itu balik menyerang aku atau anak istriku gimana?

Racun? Bisa jadi. Tapi bagaimana caranya? Aku tak mungkin memberinya makanan atau minuman. Mana dia mau.

Kepala Parman berkecamuk, penuh api,  mendidih. Ia baru saja dipecat. Tak tau sebabnya. Pagi-pagi sekali ia datang ke pabrik, mandor memanggil dan Hanya berkata singkat.
"Kamu dipecat." Itu saja. Hanya itu. Tanpa pesangon. Tanpa pesangon?

Jancook.

Parman meninju dinding kedai kopi itu yang membuat pemilik kedai marah.

"Maaf mbak yu. Saya gak sengaja tadi ada ular di dinding jadi saya memukulnya." Kata Parman.

Pemilik Kedai memajukan bibir dan membuang muka.
"Banyak utang, banyak tingkah." Gerutunya.

Kopi Parman sudah habis, diseruputan terakhir ia menemukan ide. Ia tersenyum.
Ia beranjak, mohon ijin pada pemilik kedai.
"Dicatat lagi ya mbak yu."

Pemilik kedai bibirnya semakin maju. Kali ini ia sama sekali tak melihat Parman. Udah Neg. Liat orang melarat bikin mood langsung drop.
....

Malamnya..
Parman bertamu ke rumah mandornya. Ia dan rencana jahatnya itu.

"Bangsat." Ia mendesis. Melihat rumah mandor yang semakin hari semakin megah. Sedangkan dirinya dan buruh-buruh yang lain. Kaya nggak mati menderita iya. Kepalanya semakin mendidih.

Ia datang baik-baik. Pura-pura. Ia hanya ingin membunuhnya. Tapi mandornya menyambut dengan sangat ramah tak seperti biasanya. Ia baik sekali, tutur kata yang mendamaikan.

Secangkir susu hangat dan beberapa mangkuk camilan terhidang di hadapannya.

"Silahkan pak dimakan." Kata sang mandor dengan senyum sangat ramah. Ramah. Apa dia kesurupan?

Kepala Parman tiba-tiba tak lagi mendidih sedikit lunak. Mungkin sang mandor berubah pikiran. Menyesal memecatnya dan memintanya untuk kembali bekerja esok pagi.

Ia menyeruput susunya, memakan camilan. Ia lapar, seharian ia belum makan. Tak berani pulang.

Pulang dan bilang ia dipecat? Perang dunia ke III pasti meledak.

"Ada perlu apa ya pak?" Tanya sang mandor.

"Eh, saya ingin..." Leher Parman tiba-tiba terasa kering, pahit, kemudian terasa sakit. Perutnya mual dan panas, mulutnya berbusa. Mata berkunang-kunang kemudian gelap.

Ia terjerembap ke lantai. Kejang-kejang, 5 menit kemudian Parman mati.

Sang mandor tertawa. Ada yang lebih jahat dan licik dari otak Parman. Otak si mandor.

Santiagomufc
Betiring, 21 mei 17.

Senin, 15 Mei 2017

Hutang Parman

Kaki-kaki telanjang berlarian menerobos semak-semak penuh duri. Tak peduli. Cahaya-cahaya senter menyibak seluruh isi hutan. Tebasan-tebasan parang menyibak semak belukar yang menghalangi mereka. Mata-mata marah itu terus mencari sosok yang paling mereka benci.

"Ia pasti tak jauh dari sini. Aku menemukan bercak darah yang masih basah"

"Lepaskan anjingnya!"

Anjing-anjing terlatih itu kemudian melesat mengejar sosok yang sudah terluka parah itu.

....℅...

Hidup semakin sulit. Harga-harga setinggi langit. Parman mulai membenci pemimpin pilihannya itu. Dulu ia bela mati-matian. Berseteru dengan sanak saudara, tetangga, kawan kental hanya karena pilihan mereka berbeda. Ia salah, saat-saat susah seperti ini yang selalu ada adalah tetangga, kerabat dan kawan kental. Bukan pemimpin yang ia bela mati-matian itu. Kemana pemimpin yang katanya jujur, sederhana dan paling peduli itu? Malah bikin Parman semakin melarat saja.

Pada akhirnya, Parman terjebak hutang pada seorang rentenir. Bunganya melebihi jumlah uang yang ia pinjam. Ia hutang 5 juta 5 bulan yang lalu untuk biaya bersalin istrinya dan kini hutangnya menjadi 10 juta. Itu sudah termasuk bunganya.

Beberapa hari terakhir beberapa orang berotot datang ke rumah Parman. Menagih hutang. Parman hanya bisa bilang, bulan depan.

"Aku bingung Nas. 2hari lagi rentenir itu akan datang lagi. Tak bisa bayar habislah aku nas." Keluhnya pada Nasto, kawan ngopinya.

"Orang-orang seperti rentenir itu seperti rayap yang menggerogoti orang-orang kepepet seperti kita, man. Ayolah ikut aku kerja."

"Kerja, apa ?"

Nasto mendekatkan mulutnya ke telinga parman.

"Maling?!" Parman setengah teriak.

"Sssttt...  Kalo kau mau nanti malam datang ke rumahku. Kita bisa mendapat 20 juta man dalam semalam."

"Dosa Nas."

"Biarlah yang nanggung dosa pemimpin kita. Dia sudah bikin hidup kita semakin susah. Sudahlah, kalau kau mau, datang ke rumah" ujar Nasto, ia beranjak kemudian membayar kopi yang mereka pesan.

"Kopimu sudah aku bayar man."

......℅.....

Satu jam melewati tengah malam, parman dan Nasto sudah berada di depan rumah haji Karjo. Rumah setinggi 3 lantai itu hanya dihuni 2 satpam dan 2 pembantu.  Haji Karjo dan istrinya tinggal di Malaysia, bisnis. ketiga anaknya tinggal jauh di luar kota, Sekolah.

"Aku sudah mengatur lama rencana ini. Tak mungkin gagal aku yakin. Tugasmu hanya satu, mengawasi di sini. Aku masuk ke dalam. Tunggu aba-aba dariku." ujar Nasto.

Parman hanya mengangguk. Dadanya berdegup kencang sekali. Dosa yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Bahkan sejak lahir ia tak pernah memikirkan malam ini.

Nasto merayap, meloncat melewati gerbang setinggi  2 meter itu. Nasto hapal betul setiap sudut ruang rumah megah itu. Toh, dia mantan satpam di sana.

Jantung Parman masih berdegup kencang sekali. Menunggu Nasto. Semoga Nasto baik-baik saja. Ia mendapatkan uang itu, membayar hutang dan bertobat, kembali menjadi orang jujur. Simple.

30 menit kemudian, Nasto mengirim kode. Lantai 3 rumah itu. Nasto menggunakan tangannya, membentuk segitiga, 4 jari, 9 jari diakhiri dengan jempol. Parman tau betul kode itu.

Nasto kemudian melempar sebuah ransel yang cukup berat. Parman lari mengendap, meliuk-liuk di kegelapan meninggalkan Nasto yang masih di dalam rumah megah itu, di lantai 3.

"Maliiing.....!!" Seruan dari rumah itu.

Parman tak sempat menengok kebelakang. Ia lari tunggang langgang, memikirkan nasib sahabat karibnya itu.

Semoga Nasto baik-baik saja. Jantungnya berdegup kencang.  Ia lari sejauh ia mampu. Di kegelapan hingga ia mencapai hutan.

Tiba-tiba sebuah balok kayu menghantam punggung Parman. Ia terjerembab ke dalam semak belukar. Bogem-bogem menghantamnya bertubi-tubi di kegelapan itu, entah berapa orang. Tak ada ampun. Kepala Parman bocor, hidung berdarah. Tapi parman bisa lepas dari keroyokan itu.

Dengan tenaga yang masih tersisa ia mencoba berlari. Kaki terseok, hampir patah, nungkin retak. Ia masih memeluk ransel. Istigfar berkali-kali. Ia mengingat senyum istrinya dan wajah mungil bayinya.

Aku harus hidup... Aku harus hidup...

Terdengar lagi pekikan tak jauh di belakangnya diikuti salak anjing. Suara-suara itu semakin dekat dan sekarang tepat di belakangnya.

"Itu dia!"

Anjing-anjing itu menerkam Parman. Mencabik-cabik tubuhnya.  Anjing-anjing itu menggila, seperti baru menangkap babi hutan. Parman mati.

"Ia sudah mati nas." Ujar salah seorang di kegelapan. Satpam rumah megah itu.

"Biarkan tubuhnya tergeletak di sini. Besok kalian laporkan polisi." Ujar Nasto. Ia memungut ransel yang masih dipeluk parman. Bersimbah darah.

"Kalian lapor pada majikan bahwa uangnya sudah dibawa kabur maling yang lain. Kita bagi rata besok." Nasto menepuk pundak dua satpam, mantan rekannya itu.

Santiagomufc ®
15 mei 17

Minggu, 14 Mei 2017

Senyummu dalam selembar banner

Senyummu dalam selembar banner.
Sebuah cerpen.

Tiba-tiba hari menjadi lambat, jarum detik menjadi menit, jarum menit menjadi jam, dan jarum jam mati suri. Aku tak ingin melangkah lagi.
.....

Pagi ini ku temukan lagi wajah dan senyummu pada sebuah banner depan sekolah. Sebuah pengumuman penerimaan siswa baru. Kau nampak tersenyum lebar, membawa setumpuk buku. 

Senyum itu,
Sebuah khas yang tak pernah dimiliki gadis lain.
Jika senyum itu diberikan padamu,
Maka kau akan menjadi akhsay kumar yang menyanyi dan menari.
Dil ne ye ka ha hai dil se..
Mohabatho ke hi hai thumse...
Dan mimpi-mimpimu akan berwarna lagi. Ooohhh yyaaaahhh.

Maka hari-hari selanjutnya motor dan hatiku selalu berhenti di sekolah itu, beberapa menit sebelum kulanjutkan perjalanan. Berharap menemukanmu lagi. Ya, kau pasti guru di sana atau mungkin TU. Iya kan?

Hari memanjat menemui bulan. Bulan meloncat mencapai tahun. nyatanya aku tak pernah menemukanmu di sana. Banner dengan senyummu sudah lama dicopot dan kini terpasang banner baru dengan model gadis lain. Aku mulai jenuh.

"Maaf pak, mau nanya. gadis yang ada di banner lama itu siapa ya?" Tanyaku pada tukang sapu yang berwajah teduh. Raut mukanya garang tapi penuh kedamaian. Aku bisa merasakannya.

"Banner yang mana ya mas?"

"Banner yang udah dicopot"

Bapak itu mencoba mengingat sesuatu.
"Oh itu guru di sini mas. Dulu. Sekarang udah enggak."

"Loh emang, sekarang ngajar dimana pak?"

"Beberapa bulan yang lalu ia mengalami kecelakaan hebat mas. Motornya dilindas truk kontainer. Ia meninggal saat itu juga."

"Me.. meninggal pak?"

Langit seketika itu gelap, gunung-gunung memuntahkan lahar panas, beberapa gunung mulai berterbangan seperti kapas dimainkan angin.

Waktu melambat. Dan aku tak berani melangkah.

Santiagomufc®
14 mei 17.

Kamis, 11 Mei 2017

Istana untuk Dewi

Cerpen
Inspired by true story.

Lelaki itu, pemuda biasa, bahkan jauh di bawah standar gadis aceh sepertinya, ia seorang pemulung. Datang 2 tahun yang lalu dari tanah jawa. Entah jawa yang mana. Tidak ada yang tahu. Mereka hanya tahu ia hanya pemulung yang ekonominya selalu datar.

Dewi memandangya berkali-kali dan ia hanya menemukan satu rasa yang sama. Ia tergila-gila. Ada yang berbeda dari pemuda dekil itu. Entahlah? Mungkin rahangya yang kokoh, kulitnya yang hitam, atau senyumnya yang damai? Tidak juga, ia tak memiliki semua itu. Dewi hanya jatuh cinta, sebuah cinta tak pernah sampai jadi kata.

Hari berlalu hingga mencapai puncak di bulan ke 12 Dewi menyimpan rasa itu. Hingga pada suatu malam. Pemulung itu datang dan melamarnya. Tak mudah bagi lelaki Jawa yang berekonomi rendah meyakinkan keluarganya. Tapi bukankah cinta tak memandang tahta dan harta? Tapi mau makan apa? Entahlah Pemuda itu akhirnya menikah dengan Dewi.

Hari-hari melebur bersama bahagia mereka berdua. Meski Pemuda itu tetap seorang pemulung dan ekonomi semakin sempit.

Cibiran berhamburan dimana-mana, kenapa memilih pemuda itu, ia pernah dilamar seorang mandor pabrik.

Gadis dungu, apa yang dilihat dari pemuda kumuh itu?

Coba saja dulu ia menerima lamaran perwira itu mungkin hidupnya takkan semiskin itu.

Dewi, acuh. Apalah artinya miskin. Bersama pemuda itu ia memiliki kekayaan yang tiada duanya.

Tapi abang Dewi tak lagi mampu menahan. Ia mengusir pemuda itu. Pemuda itu akhirnya pergi dan membangun sebuah gubuk dekat hutan, kabar baiknya Dewi selalu disampingnya.

Hari kembali merambat, meski pelan tapi pada akhirnya 3 tahun berlalu tanpa sedikitpun sesal yang dirasakan Dewi. Pemuda itu tetap menjadi pemulung.

Siang di bulan mei, matahari menyengat hebat. Beberapa mobil polisi mengepung gubuk dekat hutan itu. Warga di sana berkumpul. Ingin tahu.

Suami Dewi kriminal?

Sudah ku duga.

Tapi polisi-polisi itu menjabat tangan si pemuda dekil itu.

Apa? Ada apa? Siapa pemuda itu? Hei, kenapa polisi-polisi itu menjabat tangannya.

Ia adalah intel yang ditugaskan di sini.
Apa?
I...intel katamu?

Waktu kini berlari, pemuda itu mengajak Dewi pulang ke Jakarta.

"Maaf sayang ada banyak yang ku rahasiakan darimu selama ini. Tapi kau tahu? Ada satu hal yang tak pernah menjadi rahasia, aku mencintaimu." Ujar pemuda itu.

"Ini rumahku, meski tak senyaman istana kita di sana semoga ini bisa menjadi istana kita berikutnya."
Sebuah rumah super mega berdiri angkuh di hadapan Dewi.
...
Santiagomufc
10/05/17

Sabtu, 25 Juni 2016

The amazing sapidamen - Serangan pertama Elsyuhaduck

"Saya mau belajar ps, pak." Ujar Parkir.
"Afa? kami sudah lama tidak maen fs, anak muda. hanya memfuang waktu." Nuril tegas.
"Tapi pak dunia membutuhkan kita pak"
"Maaf anak muda. kami sudah fensiun, tidak ada yang fisa diharafkan dari fermain fs. mufazir. fulanglah nak."
" Hihihi TING.. betul. kami sudah membuang kebiasaan lama itu nak hihi TING" Toyib melirik Nuril.

"Tapi... kalian legenda ps. el syuhaduck menguasai otak semua orang dengan ps. sebentar lagi dunia akan berada dalam genggamannya. hanya kalian yang bisa mengalahkannya. setidaknya ajari.saya pak" Parkir memohon.

"Syulhaduck?" Nuril mengelus jenggotnya. mengingat sesuatu.
"Hihi... dia Orang lama dari planet elmenho buung. kita pernah mengalahkannya. ingat.buung? hihii TIIING"
"Femain lama? ya ya ane ingat. dia mudah sekali kita kalahkan. oh ya anak muda? Ferafa umurmu?"

"25 Tahun pak.  bapak orang arab ya? logatnya kok kaya wan abud".

"Haha... ane fukan orang araf, nak. tafi ane ane orang jawa tafi sering nonton drama turki. jadi feginilah cara ficara saya"

"jadi oramg turki ngomongnya gitu ta?" Parkir menggaruk kepalanya. ia merasa aneh dengan dua orang tua yang sedanag duduk.di depannya ini.
"jadi bolehkah saya belajar ps?"

"Jelas tidak fisa nak. kami sudah fensiun."
"Hiihihi TING.. iya iya vetul afa kata nuril hihi TING"
"ente jangan ikut-ikutan ane ngomong kayak gini vuung"
"keceplosan hihi..  TING"

Boooammmm..... tiba-tiba sebuah ledakan hebat bermuara dari kandang ayam Nuril. menggelegar, ayam-ayam lepas, telur-telur prematur, menetas sebelum waktunya, sebagian lainnya kejang-kejang, mati.

Nuril lekas meloncat dari kursinya, berlari ke kandang ayamnya diikuti Toyib dan Pikir parkir.

"Ayam-ayamku lefas semua. ada afa? ada yang mati juga. siafa yang memfakar fetasan?" Nuril panik ia mondar-mandir mengejar ayam yang bertaburan.

"Bukan petasan pak. ini efek ringan dari onvasi elsyuhaduck pak. dia sudah mulai melangkah pak" Teriak parkir.

"afa? fagaimana fisa fegini?"

" sulit dijelaskan pak. ajari aku ps pak sebelum semuanya semakin.memburuk"

"Fiye vuuung?" Nuril.melirik Toyib. wajahnya terlihat pucat
"TING... oke buuung TING " Toyib tersenyum, mengangguk.
Nuril menghela nafas panjang

"Anak muda bawa stik fs sendiri ."

" siap"

Pikir parkir diangkat menjadi murid 2legenda ps sementara elsyuhaduck terus melakukan penyerangan satu persatu ia menguasai banyak daerah. akankah Pikir parkir berhasil.menghentikannya?

ayo.tadarus dulu deh.....

fersamfung......

Rabu, 22 Juni 2016

The amazing sapidamen (2 legends)

Langit berwarna biru sempurna siang itu, tak ada selembar awan pun yang memudarkan warnanya. Aspal mengkilap karena basah dan  terkena sinar matahari, hari itu terasa sepi, sepi sekali tak seperti hari-hari biasanya.



Pikir parkir masih memandangi kotak berkarat itu. Stik Ps? Untuk apa kakek itu memberinya stik ps? Sejak kecil ia tak pernah maen ps.



“tulululululung’’ hape parkir bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomer baru.


‘’halo Assalamualaikum?’’ sapa parkir


`` apa benar ini the amazing sapidamen itu?``


``e..i..iya. ini siapa?``


``saya pak wakil bupati mas?``


``Serius? Ada apa pak?``


``nanti saya jelaskan. Lima menit lagi akan ada mobil penjemput di terminal baru. Segera mas sapidamen kesana. Mereka takkan pernah berhenti sebelum semuanya hancur… tuutt tuttt…``


``maksudnya apa sih pak, aneh deh``



Telelet… sebuah sms masuk di hape parkir.


``maaf bonusan saya habis mas.  Ttd. Wakil Bupati``



~~



Sebuah rumah mewah yang berada di perumahan elit, ada kolam renang, ruang tamu yang luas  dan lampu-lampu mewah menggantung di sana. Rumah kediaman bapak bupati. Wakil bupati menyambut Pikir parkir dengan sangat hangat.



``tak ada waktu mas, hanya mas yang bisa  mengakhiri semua ini`` Pak wakil bupati mengusap keringat di dahinya.


``aku gak paham pak?``


``Ikut aku mas`` wabup mengajak Parkir ke sebuah ruangan di lantai dua.


``lihat mas, pemimpin kita.`` wapub menunjuk seorang yang tak asing bagi Parkir, ia sedang memegang stik dengan tatapan mata kosong.


``pak bupati maen ps? Aku semakin gak ngerti deh pak. Aku diajak maen ps gitu? Gak paham deh`` parkir menggaruk Helmnya.



Pak wabup menghela nafas panjang.


``Jadi gini mas, ada alien yang ingin menguasai kota ini. Ia menggunakan ps sebagai alat untuk memudahkan langkahnya. Dia menguasai jiwa orang-orang agar mereka selalu ingin maen ps dan melupakan tugasnya. Tidak hanya pak bupati yang seperti ini tapi juga seluruh masyarakat. Kini mereka mungkin di depan tivi, maen ps. tolonglah mas, Hanya sampean yang bisa membantu kami``



``tapi pak, saya gak bisa maen ps``


``semoga kau menemukan caranya mas, superhero. Hanya mas harapan kami`` pak wabup mengusap air matanya.



~~


Hari menjadi sangat panjang, masalahnya sungguh berat Sapidamen harus berduel dengan alien satu lawan satu, maen ps. Pikir parkir masih membolak balik kotak berisi stik ps itu dan di sanalah ia menemukan sebuah titik terang, nomer hape dua legenda PS yang tertulis dalam kotak itu. Lekas ia beranjak dari tempat tidurnya dan membeli pulsa.



~~



Parkir menempuh jarak yang cukup jauh bahkan sangat jauh, ia harus naik bus, ojek, bus lagi, becak dan delman hingga ia sampai ke tempat dua legenda ps yang bersahaja itu. Rumah sangat sederhana, di tengah sawah dan di kelilingi kandang ayam, banyak pohon mangga di sana.



``Assalamualaikum,`` parkir mengetuk pintu.


``Waalaikumsalam`` pintu dibuka.


``TING`` pemilik rumah tersenyum giginya bersinar ting.


``apa benar ini rumah bapak Nuril?``


``TING. Iya benar. Tapi Nuril masih di luar ambil rumput TING``



Parkir menelan ludah melihat gigi panjang bersinar cemerlang, mengingatkannya pada almarhum boneng.



``oh. Terus bapak ini siapa?``


``saya toyib TING`` toyib tersenyum


``ja… jadi bapak legenda ps itu ya?``


``hhiihi.. TING.. monggo masuk TING`` Toyib tersenyum lagi. Ia bersahaja, ramah dan bergigi panjang.



\bersambung……



Minggu, 19 Juni 2016

The Amazing Sapidamen - Kotak Berkarat 1

Hujan mengguyur sepanjang hari, sejak tadi pagi bahkan sejak kemarin mendung mendominasi warna langit. Kemarau akan datang sangat terlambat atau mungkin tahun ini ia tidak datang sama sekali. Itu berarti petani tak akan pernah nganggur, akan ada banyak pekerjaan untuk mereka.

Aku ingat satu cerita yang pernah menimpa Pikir parkir beberapa tahun yang lalu. Saat itu hujan tiada berhenti. Dingin menghantam menuai banyak respon, ada yang bersyukur dan tak sedikit yang mengeluh. banyak yang berhenti bekerja dan memilih nongkrong di dalam selimut dan ada segelintir orang yang tetap bekerja di bawah guyur hujan, salah satu dari segelintir orang itu adalah Pikir parkir. Ia tetap mencangkul di sawahnya. hingga seseorang tergopoh menghampirinya, seorang kakek.

"Nak, tolong aku nak, Hosh hosh" ujar kakek itu matanya melotot, nafasnya memburu, bibirnya biru pucat, ia menggigil, takut.

Pikir parkir melongo, ia tak asing dengan wajah kakek itu. Ia mencoba menginggatnya,

"Nak tolong, bawa kotak ini pergi sejauh mungkin dariku. Orang-orang itu mengejarku, ingin membunuhku demi mendapatkan kotak ini." kakek itu menyerahkan sebuah kotak besi yang berkarat, lantas ia berlari meninggalkan parkir dengan kotak berkarat itu.

Parkir memandang bingung kakek itu, hingga si kakek lenyap di kejauhan. Ia sejenak menatap kotak berkarat itu, Bom? Emas? Atau mungkin segepok uang? Entahlah. ia kembali mencangkul.

____

Gerimis masih menghiasi malam, sepi tak satu pun orang yang rela meninggalkan tempat tidurnya kecuali ketiga orang berjubah ini, ia mencari rumah pikir parkir. mereka menemukannya.

"Tok.. Tok... Tok.." Suara pintu rumah Pikir parkir di ketok.
.
"Ini rumah anak itu kan?" tanya salah seorang manusia berjubah itu.
"Mungkin... Menurut google si gitu"
"Dorr... Dorrr" dan digedor.
"Braak..Braaak..." kini mereka mencoba mendobrak.

"Woe kampret!!" seseorang terbangun, lekas ia meraih golok dan dengan kasar membuka pintu, ia bukan pikir parkir.
"Bosen urip kowe? Kampret tak pateni kowe?" Seorang bapak-bapak brewok berbadan besar melotot tangan erat menggengam golok.

"A..ampun pak.. Saya salah alamat mungkin. saya nyari rumah pikir parkir pak."

"Kampret, rumah Parkir di RT sebelah. Wah kurang ajar kowe iki" Bapak brewok mengangkat golok membuat ketiga pria berjubah itu kabur.
___

"Tok..tok"
"Siapa?" Tanya parkir
"Ini rumah mas pikir parkir?" tanya seseorang dari balik pintu.
"Bukan ini rumah orang tua saya, saya masih numpang."
"Sama aja rumah kamu, Gobloke pol!"
"Ssst.. Ini bener rumahnya"
"Ada apa ya?" tanya parkir, ia mendekati pintu.
"Buang kotak itu, atau hidupmu dalam bahaya."
"Kotak?"Parkir mengingat sesuatu kota berkarat itu.
"Ada apa dengan kotak itu?" Parkir membuka pintu dan tak ada siapapun di luar sana.

Lekas ia mencari kotak itu, meraihnya dari kolong tempat tidur dan membukannya paksa.

"Sebuah Stik Ps?" ia ingat. kakek itu adalah pemilik rental Ps yang sudah gulung tikar belasan tahun silam.

"tapi mengapa?" Parkir membolak balik stik itu. Dan tak mengerti...

Bersambung...

Kamis, 16 Juni 2016

The amazing sapidamen -LESLETING-

Hujan dibulan juli, petir menyambar-nyambar seperti jutaan mercon yang dibakar bersamaan, bak meriam. Jalan raya menjadi sepi, bukan karena hujan tapi karena sekarang sudah mendekati tengah malam. Hampir seluruh warung-warung dan toko pinggir jalan tutup hanya menyisakan sebuah warung kopi dan minimarket yang buka 24 jam. Hampir tidak ada kehidupan, semua tertidur, kecuali penjaga minimarket, penjaga warung beserta 2 pelanggannya yang tengah bermain catur dan seorang penjaga toilet umum.

Ia nampak mengantuk menjaga kotak kecil yang berisi uang lembaran 2 ribuan. Tidak ada alunan musik hanya bising nyamuk yang sedang shif malam dan suara rintihan dari dalam toilet itu.

Rintihan itu sesekali mengeras kemudian melamban dan mengeras lagi hingga terdengar dari minimarket dan warung kopi.

Penjaga warung, minimarket dan toilet acuh, seolah tidak terjadi apa-apa. Semua tak peduli kecuali pelanggan warung yang tengah bermain catur, ia adalah pikir parkir dan kawannya,

"kamu denger gak suara orang nangis?" tanya parkir

"Denger kir, SKAK haha..."

"gendruwo apa manusia ya?"

"gak tau, woe kir, skak woe, rajamu sekarat."

"Bentar din, aku liat dulu de,"

"Woe kir, Skak woe rajamu, ealah kampret," udin nyerumput kopinya.

Pikir parkir segera berganti kostum dan menghampiri sumber suara itu.

"Nggrook Ngroook..." suara dengkuran penjaga toilet.

"ngik ngik ngik" Suara rengekan melemah.

Pikir parkir merinding, ah super hero mana takut hantu, tapi parkir sedang dalam ketakutan.

"Pak, pak, denger gak suara nangis-nangis?" parkir mencoba membangunkan penjaga toilet, berharap ia bangun dan menemani parkir melihat-lihat isi toilet.

"Nggroook" penjaga toilet hanya garuk-garuk pantat, dan ngorok lagi.

"Hiii.. Hiiii... Hiii.." suara rintihan itu kembali meninggi.

"Waduh, kampret." bulu kuduk parkir berdiri.

parkir menepis semua pikiran horrornya dan melupakan sosok kuntilanak yang pernah ia liat dalam film horor. Ia mendekat perlahan, memantapkan hati dan  di sanalah ia kini, di depan pintu toilet paling pojok sumber dari suara rintihan itu berasal.

"Tuk.. Tuk.." ia mengetuk pintu

"Siapa? Bental tanggung hiii hiii.." sahut dari dalam toilet.

"Saya super hero mas, mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya parkir.

" supel helo? Supelmen? Betmen? Kapten amelika?"

"Bukan mas, mbak"

"Saya mas bukan mbak! Kalo bukan supelmen betmen lalu supel helo yang mana?" suaranya ketus

"Saya sapidamen Mas,"

"Spaidelmen?"

"Bukan mas. Saya Sapidamen. Super hero baru"

"oh, jangan ganggu saya hiii..hiii"

"Saya pengen bantu mas"

"Selius kamu?"

"iya.. Mas bukan hantu kan?"

"BUKANLAH! BENTAL SAYA BUKA PINTUNYA"

Pintu terbuka betapa terkejutnya parkir pria gemuk dadanya penuh bulu tanpa kaos. lebih horor dari mbak kunti, parkir menelan ludah.

"Mas kenapa?" tanya parkir.

"Kemalin waktu saya buang ail, anu saya kejepit"

" apa? Jadi mas di sini sejak kemarin?"

"iya bulung saya kejepit lesleting, ngiluuu hiii hiii"

"ihh... Pasti ngilu banget mas, soalnya dulu aku juga pernah. sebelum pipis gak doa dulu sih"

"iya mas, hiks"

"Makanya mas, kalo mau pipis doa dulu dan pipisnya sambil duduk, ah mas ini."

Pikir parkir kemudian melepaskan "Anu" yang kejepit resleting. Ia berhasil, tugas yang berat dan jorok tapi itu resiko seorang superhero.

"Telima kasih mas, supel heloo" pria gemuk itu melambaikan tangan, menyaksikan piter parkir berayun dari satu tiang listik ke tiang yang lain, hingga ia mengghilang di telan remang cahaya lampu jalan.